Cerita: Bagaimana Saya Bisa Bekerja di Unilever

Saya masih ingat tepat bulan Agustus tahun lalu, saya kehilangan pekerjaan pertama saya setelah bekerja selama 6 bulan. Pertama kali masuk ke sebuah perusahaan multinasional FMCG di bulan Februari 2017 membuat saya senang, bersyukur, dan bangga, tetapi bulan Agustus merupakan mimpi terburuk yang pernah saya alami.

Rasanya sedih, kecewa, dan tidak menyangka. Keputusan dari perusahaan dilakukan secara tiba-tiba. Dan parahnya ada tiga orang di tempat saya yang juga dinyatakan tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Dadakan saja malam itu, kami bertiga membuat acara perpisahan dengan tim. Tim yang saya kenal enam bulan, tetapi saya sudah anggap sebagai keluarga sendiri. Di akhir bulan, kami harus berpisah dan kembali ke rumah masing-masing.

(kiri ke kanan) Saya, Bang Iqbal, Daffy, Heysa, dan Ludvi

Ada seseorang yang saya kira kontribusinya sangat besar saat saya berada di perusahaan itu. Namanya Mumtaq Iqbal. Beliau adalah Team Leader untuk divisi yang berbeda, tetapi beliau sudah kami anggap seperti guru dan mentor. Usianya lebih muda daripada saya, tetapi cara berfikirnya luar biasa. Saat saya akan meninggalkan distributor bertolak pulang ke Bandung saya masih ingat kata-kata Bang Iqbal (panggilan yang kerap saya berikan).

“Tenang aja Fan, masih banyak kesempatan yang lebih hebat yang menunggu lo di luar sana.”

Kalimat itu kemudian dilanjutkan dengan cerita pacarnya yang dulu juga bekerja di perusahaan yang sama tetapi kemudian tidak bisa melanjutkan. Walaupun begitu, sekarang dia sudah bekerja di sebuah perusahaan startup yang perkembanganya luar biasa dengan benefit yang lebih dari sebelumnya. Cerita itu, entah kenapa, selalu terngiang-ngiang di kepala saya dan ternyata menjadi kenyataan!

Mungkin teman-teman juga pernah merasakan hal yang serupa, sambil menunggu kesempatan kerja datang, tidak ada salahnya mencoba hal yang saya lakukan ini;

  1. Meninggalkan sejenak semua hal tentang pekerjaan. Awalnya memang sulit karena biasanya kita sudah bangun pagi, mandi, dan pergi bekerja. Kemudian waktu itu, kita tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tenang. Coba tarik nafas dalam-dalam. Ambil pena dan kertas. Kemudian, tuliskan hal-hal apa saja yang belum pernah kamu lakukan dan bisa dilakukan sekarang.
  2. Hubungi keluarga dan teman-teman yang sudah lama tidak kita jumpai. Dulu kita tidak sempat ketemu dengan sanak saudara yang di kampung atau teman-teman sekolah karena sibuk bekerja. Ayok luangkan sejenak untuk ketemu mereka. Pererat tali silaturahmimu. Dengan bertemu dan saling berbicara secara langsung banyak hikmah dan ilmu yang bisa kita dapatkan.
  3. Lanjutkan hobi yang tertunda. Jangan menunggu-nunggu lagi. Sudah lama kamu tidak menulis, membaca, berenang, atau travelling? Saya coba melanjutkan kegemaran saya menulis dan mulai membangun sebuah blog dengan uang gaji dari perusahaan sebelumnya. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan di hobi yang kamu suka. Besar kemungkinkan saat kamu sudah handal dalam bidang yang kamu suka, akan muncul kesempatan bekerja yang sesuai dengan hobi kita.
  4. Mulai review kembali profil diri di situs mencari kerja. Setelah sudah tenang dengan kenyataan yang kita terima, mari mulai membangun ulang profil kita di situs pencari kerja. Perbaharui profil di Linkedin kamu. Tambah koneksi. Buat rekomendasi untuk teman-teman kamu di tempat kerja sebelumnya, Tunjukan bahwa mereka menjadi bagian penting dalam perkembangan kita. Profil tersebut nanti bisa di copy-paste ke situs pencari kerja lokal seperti jobstreet, jobsid, karir.com. dll. Hal yang penting adalah profil kita harus jelas, jujur, dan positif agar tawaran pekerjaan yang muncul cocok dengan kita.
  5. Jangan lupa berdoa. Setelah kita sudah banyak usaha, jangan lupa untuk berdoa. Bagi kamu yang muslim, laksanakan shalat wajib dan shalat tahajud, puasa Senin-Kamis, dan minta doa restu dari orang tua :).

Hasilnya, tiga bulan kemudian, Ibu Febby HR dari Unilever menghubungi saya dan menawarkan pekerjaan yang nama posisinya mirip dengan perusahaan sebelumnya, tetapi tanggung jawabnya lebih tinggi dan benefitnya luar biasa. Setelah menjalani proses seleksi yang ketat dan singkat, alhamdulilah saya lulus dan diterima di Unilever. Hal yang saya syukuri adalah proses rekruitment yang sangat fokus kepada calon pegawai. Semua calon difasilitasi dengan uang transport, makan siang, cemilan, dll. Baiknya cara Unilever merekrut pegawai menjadi refleksi atas kebijakan Unilever kepada karyawanya sendiri.

Kini, saya sudah tujuh bulan di Unilever dan belajar lebih banyak dari sebelumnya. Saya masih terus berkomunikasi dengan teman-teman di perusahaan sebelumnya terutama dengan Mas Iqbal. Kami pernah bertemu di Jogja dan membicarakan banyak hal tentang bisnis.

Apakah kamu punya pengalaman yang serupa? Tulis koment di bawah ya. Bagi yang ingin berbincang hangat mengenai pengalaman pindah kerja, saya terbuka untuk sharing dan belajar lebih banyak tentang kalian. Selamat belajar dan bekerja :).